OCKTAVIAN WHASTA WIRAWAN / 15211422 / 4EA03
Pentingnya membina etika bisnis untuk menghasilkan bisnis yang bagus
Etika bisnis merupakan suatu studi mengenai prinsip-prinsip atau
standar-standar moral dan bagaimana standar-standar ini berlaku bagi
sistem dan organisasi yang digunakan oleh masyarakat untuk menghasilkan
dan mendistribusikan barang dan jasa, dan bagi orang-orang yang bekerja
di dalam organisasi tersebut.
Dua hal yang perlu dicatat dari pengertian di atas.
Pertama, etika bisnis bukanlah suatu jenis lain etika; ia adalah etika
dalam konteks bisnis; memfokuskan pada apa yang merupakan perilaku yang
benar atau salah di ranah bisnis dan bagaimana prinsip-prinsip moral
diterapkan oleh para pelaku bisnis pada situasi-situasi yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari mereka di lingkungan pekerjaan.
Kedua, para pelaku bisnis tidak perlu mengadopsi seperangkat prinsip
etika untuk memandu mereka dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis
dan seperangkat prinsip lain untuk memandu kehidupan pribadi mereka.
Dimensi Moral dalam Pengambilan Keputusan Bisnis
Terlepas dari rumitnya hubungan etika bisnis dengan ekonomi dan hukum,
bisnis adalah organisasi ekonomi yang tidak hanya menjalankan
kegiatannya berdasarkan aturan-aturan hukum yang berlaku, tetapi juga
norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.
Bahkan dapat dikatakan, bahwa seiring dengan meningkatnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab sosial, etika
merupakan dimensi sangat penting yang harus selalu dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan bisnis.
Cakupan Etika Bisnis
Isu-isu yang dicakup oleh etika bisnis meliputi topik-topik yang luas.
Isu-isu ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 dimensi atau jenjang, yaitu:
(1) sistemik, (2) organisasi, dan (3) individu.
Isu-isu sistemik dalam etika bisnis berkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul mengenai lingkungan dan sistem
yang menjadi tempat beroperasinya suatu bisnis atau perusahaan: ekonomi,
politik, hukum, dan sistem-sistem sosial lainnya.
Isu-isu organisasi dalam etika bisnis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan etika tentang perusahaan tertentu.
Sementara itu, isu-isu individu dalam etika bisnis menyangkut
pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul dalam kaitannya dengan individu
tertentu di dalam suatu perusahaan.
Manajemen beretika, yakni bertindak secara etis sebagai seorang manajer
dengan melakukan tindakan yang benar (doing right thing). Manajemen
etika adalah bertindak secara efektif dalam situasi yang memiliki
aspek-aspek etis. Situasi seperti ini terjadi di dalam dan di luar
organisasi bisnis. Agar dapat menjalankan baik manajemen beretika maupun
manajemen etika, para manajer perlu memiliki beberapa pengetahuan
khusus.
Banyak eksekutif bisnis menganggap kultur korporat yang mereka pimpin,
adalah sesuatu yang mereka inginkan. Mereka membuat lokakarya untuk
mendefinisikan nilai-nilai dan proses-proses, menuliskan misi dan tujuan
perusahaan pada poster, menyediakan sesi-sesi orientasi untuk pegawai
baru, guna menjelaskan tujuan perusahaan dan lain-lain. Bahkan, ada yang
mencetak statement nilai-nilai perusahaan di balik kartu identitas
sebagai pengingat bagi para pegawai.
Semua itu memang penting dilakukan. Namun, ada hal yang lebih penting
yang kerap dilupakan pemimpin bisnis. Kultur perusahaan sebenarnya
didefinisikan oleh perilaku para eksekutif. Pegawai meniru perilaku bos
karena boslah yang menilai, menggaji, dan mempromosikan mereka. Maka,
para pemimpin tertinggi pada akhirnya bertanggung jawab atas kultur
organisasinya, termasuk kultur etikanya.
Memang benar, pegawai secara individual bertanggung jawab atas
perbuatannya. Mereka digerakkan seperangkat nilai-nilai atau
prinsip-prinsip internal sendiri. Namun, ketika urusan perut, kedudukan,
dan kekuasaan yang menjadi taruhan, orang akan melakukan apa saja agar
berhasil. Terlalu sedikit orang yang punya nyali mengambil risiko bagi
diri dan keluarga demi prinsip, terutama jika konsekuensinya tampak
kecil, samar, dan tak terdeteksi.
Di sinilah strategisnya peran pemimpin. Agar pegawai bertindak sesuai
prinsip, suatu organisasi bisnis harus dipimpin eksekutif yang
bersungguh-sungguh membuat keputusan, tidak hanya menurut
batasan-batasan bisnis dan legal, tetapi juga batasan-batasan etis.
Secara sepintas, untuk menegakkan etika yang bagus sepertinya
menghabiskan uang. Padahal, kepemimpinan yang etis justru bisa menghemat
uang. Cobalah renungkan peran kualitas dalam bisnis. Sebagian besar
industri Amerika sebelum 1970-an, menganggap produk dan jasa yang
berkualitas terlalu mahal untuk diproduksi. Lalu, ada satu pelajaran
besar yang diajarkan kepada industri Amerika oleh industri Jepang.
Ironisnya, industri Jepang belajar dari ahli statistik Amerika, William
Edwards Deming.
Pada 1947, Deming dikirim ke Tokyo untuk menjadi penasihat Markas
Pasukan Sekutu, mengenai penerapan teknik sampling yang dikembangkannya.
Di sana, dia berkesempatan bertemu dengan manajer Jepang, yang punya
hubungan baik dengan Keindanren, serikat buruh besar di negara itu. Para
manajer terpikat pada teori-teori manajemen Deming, yang mereka dengar
sebelum perang. Mereka pun mengundangnya untuk memberi kuliah dan
berbicara dalam seminar-seminar. Singkat cerita, industri Jepang
mengadopsi teori-teori manajemen Deming dan sepuluh tahun kemudian,
produk-produk Jepang mulai mengalir ke AS.
Konsumen AS tak salah, sebab barang-barang Jepang memang lebih bagus dan
lebih murah. Itulah titik balik sejarah dunia. Kini, perusahaan
otomotif, elektronik, dan semikonduktor Jepang, benar-benar menikmati
hasil pelajaran itu. Industri Jepang bisa mendominasi pasar dunia dalam
hal kepuasan pelanggan, dengan biaya manufaktur yang paling rendah.
Pelajaran besar yang diajarkan industri Jepang adalah tentang imbalan
dari biaya (baca, komitmen) kepada kualitas dan pelayanan kepada
konsumen.
Paradigma peran kualitas itu juga berlaku pada etika. Pelaksanaan etika
yang buruk, bisa mengarah kepada kerugian finansial. Ilustrasinya,
ketika suatu perusahaan mematok keuntungan terlalu tinggi dan
mengeksploitasi konsumen, maka prinsip pertama makro ekonomi akan
berlaku. Ketika rate of return berlebihan, maka kompetitor masuk untuk
mengoreksinya. Kompetitor menekan harga turun, menghasilkan profit
subnormal, bahkan kerugian dan pada akhirnya perusahaan yang paling
tidak efisien akan tersingkir dari pasar.
Bukan suatu kebetulan bila secara empiris, etika berkorelasi dengan rate
of return. Perhatikanlah, nilai investasi di perusahaan-perusahaan AS
yang menjunjung tinggi komitmen tanggung jawab sosial, naik secara tajam
pada tahun 1995-1997. Aset-aset di perusahaan seperti itu –tidak
termasuk perusahaan tembakau, senjata, atau perusahaan yang dikritik
karena praktik perburuhan mereka— naik 227 persen dalam dua tahun (dari
162 miliar dolar AS menjadi 529 miliar dolar AS). Ini sangat
mengesankan, mengingat pada periode yang sama, pasar secara keseluruhan
tumbuh hanya 84 persen dan S&P hanya 60 persen.
Tidak berlebihan bila dikatakan, kelangsungan suatu organisasi bisnis
akan ditentukan seberapa kuat penegakan etika di dalamnya. Kultur etika
organisasi bergantung kepada pemimpinnya.
Selama ini, banyak orang salah memahami arti kepemimpinan. Umumnya,
orang melihat pemimpin adalah kedudukan atau posisi semata, sehingga
banyak orang mengejarnya dengan menghalalkan segala cara. Ada yang
membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing atau
teman, dan sebagainya. Pemimpin hasil dari cara seperti itu, akan selalu
menggunakan kekuasaannya dalam mengarahkan, memperalat, bahkan
menguasai orang lain, agar orang lain mengikutinya. Pemimpin jenis ini,
umumnya suka menekan, dan sebagai akibatnya, dia bukan pemimpin yang
dicintai. Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi
Anda tidak bisa memimpin orang lain dengan efektif tanpa mencintai
mereka.
Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini?
Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya
saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai
(value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik,
sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang
andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan
konsekwen.
http://roboluticx.blogspot.com/p/pentingnya-membina-etika-bisnis-untuk.html
Thursday, October 23, 2014
Etika Bisnis Tulisan 1
OCKTAVIAN WHASTA WIRAWAN / 15211422/ 4EA03
Etika Bisnis Dan Budaya Perusahaan
Sosialisasi dan Upaya Penegakan Etika Bisnis
Pemahaman dan upaya mengingatkan kembali
kepada karyawan tentang Tata Nilai dan Etika Bisnis dilakukan
melalui pengiriman materi sosialisasi dan sekaligus assessment
yang dilaksanakan setiap tahun.
Materi tersebut berkaitan dengan
pemahaman: GCG, etika bisnis, pakta integritas, fraud, manajemen risiko,
pengendalian internal (“SOA”), whistleblowing, pelarangan gratifikasi,
tata kelola TI, menjaga keamanan informasi dan hal-hal lainnya yang
terintegrasi terkait dengan praktik tata kelola Perusahaan. Upaya
dimaksud dilakukan melalui program Survei Etika Bisnis dengan populasi
seluruh
karyawan. Survei dilakukan secara online, melalui media portal/intranet Perusahaan yang diakhiri dengan pernyataan kesediaan karyawan untuk menjalankan etika bisnis di Perusahaan.
karyawan. Survei dilakukan secara online, melalui media portal/intranet Perusahaan yang diakhiri dengan pernyataan kesediaan karyawan untuk menjalankan etika bisnis di Perusahaan.
Pemahaman dan penerapan etika bisnis
berikut hasil survei setiap tahun diaudit secara internal maupun
eksternal melalui proses audit SOA 404 terkait dengan penerapan control
environment sesuai kerangka kerja pengendalian internal COSO pada
audit pengendalian internal tingkat entitas.
Budaya Perusahaan
Sistem dan budaya terus dikembangkan
sesuai dengan tuntutan dan perubahan bisnis untuk mewujudkan cita-cita
agar kami terus maju, dicintai pelanggannya, kompetitif di industrinya
dan dapat menjadi role model Perusahaan. Sejak tahun 2009 dilakukan
transformasi budaya baru Perusahaan yang disebut dengan “The Telkom
Way”. Pengembangan budaya selanjutnya, dilakukan pada tahun 2013
dengan ditetapkannya Arsitektur Kepemimpinan Dan Budaya Perusahaan
(AKBP) Telkom Group.
Evaluasi Implementasi Etika Bisnis dan Budaya Perusahaan
Setiap tahun kami melakukan survei
internal untuk mengetahui efektivitas penerapan budaya Perusahaan dan
etika bisnis, kami menyebutnya dengan istilah Etika Bisnis Family
Survey. Beberapa pertanyaan ditujukan kepada karyawan dilakukan secara
online agar dapat menjangkau semua karyawan secara cepat, meliputi: GCG,
Etika Bisnis, Tata Nilai The Telkom Way, anti fraud,
pengendalian internal, pakta integritas, whistleblowing system, dan
lain-lain. Hasil survei pada tahun 2011, 2012, dan 2013 adalah 74,87
poin , 79,07 poin dan 75,80 poin dari skala 100 poin.
http://www.telkom.co.id/investor-relations/tata-kelola-perusahaan/etika-bisnis-dan-budaya-perusahaan
Contoh Kasus yang Tidak Beretika
NAMA : OCKTAVIAN WHASTA WIRAWAN / 15211422 / 4EAO3
Contoh Kasus 1 :
Bubur ayam merupakan salah satu menu
favorit kita untuk sarapan setiap harinya. Makanan ini digemari oleh
hampir semua kalangan dan semua usia, mulai dari anak-anak hingga
dewasa. Namun tanpa kita sadari, ternyata ada suatu ancaman mengintai
kesehatan tubuh kita, yaitu BORAKS! Ya, boraks yang diindikasikan bisa
mengawetkan bubur tersebut ternyata ikut dimasukkan ke dalam adonan
pembuatan bubur ayam oleh pedagang bubur ayam yang berniat curang guna
memperoleh keuntungan dengan cara mengawetkan buburnya agar bisa tetap
dipergunakan esok harinya.
Melihat fenomena dan fakta tersebut,
hendaknya kita bisa membedakan bubur ayam yang mengandung boraks dan
yang tidak menggunakan boraks. Memang tidak mudah untuk membedakannya,
karena tampilan keduanya sama-sama encer dan putih.
Cara membedakannya :
- Bubur ayam yang dicampuri boraks, biasanya tekstur buburnya tidak akan berubah dalam jangka waktu tertentu, masih tetap encer, namun apabila kita memegang tekstur buburnya, maka akan terasa lengket di tangan seperti lem.
- Bubur ayam yang tidak mengandung boraks, tekstur buburnya akan mengental dan mengeras dalam jangka waktu tertentu, karena air yang terkandung di dalam bubur tersebut akan menyatu dengan buburnya. Bila kita pegang pun tidak akan terasa lengket.
Komentar Penulis :
Pendapat saya contoh kasus di atas sangatlah membahayakan untuk pihak yang mengkonsumsi bubur ayam karena jika dikonsumsi akan memicu terjadinya penyakit seperti gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Hal ini harusnya tidak terjadi lagi untuk para pebisnis yang melakukan usaha bubur ayam. Pebisnis harus jujur dan memiliki etika yang baik untuk konsumen supaya konsumen tidak menjadi korban dari pebisnis yang nakal dan kurang beretika.
Pendapat saya contoh kasus di atas sangatlah membahayakan untuk pihak yang mengkonsumsi bubur ayam karena jika dikonsumsi akan memicu terjadinya penyakit seperti gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Hal ini harusnya tidak terjadi lagi untuk para pebisnis yang melakukan usaha bubur ayam. Pebisnis harus jujur dan memiliki etika yang baik untuk konsumen supaya konsumen tidak menjadi korban dari pebisnis yang nakal dan kurang beretika.
Contoh kasus 2 :
Usaha peternakan ayam negeri atau broiler
mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena tingginya
permintaan masyarakat akan daging. Usaha peternakan ayam ini juga
memberikan keuntungan yang tinggi dan bisa menjadi sumber pendapatan
bagi peternak ayam broiler tersebut. Akan tetapi, peternak dalam
menjalankan usahanya masih mengabaikan prinsip-prinsip etika bisnis.
Akhir-akhir ini usaha peternakan ayam
dituding sebagai usaha yang ikut mencemari lingkungan. banyaknya
peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai
mengganggu oleh warga terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat
dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk
dari kegiatan usaha peternakan ayam karena masih banyak peternak yang
mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan yang
berupa feses (kotoran ayam), dan sisa pakan serta air dari pembersihan
ternak dan kandang menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di
sekitar lokasi peternakan tersebut. Tidak jauh dari rumah saya banyak
berdiri peternakan ayam di tengah-tengah penduduk yang tidak jarang
terjadi perselisihan antara masyarakat yang berada di sekitar peternakan
tersebut dengan pemilik ternak tersebut. Masyarakat mengeluhkan polusi
udara atau bau yang tidak sedap dari limbah peternakan ayam tersebut,
yang dikarenakan kurangnya manajemen dalam pengelolaan limbah ternak.
Selain itu timbulnya banyak lalat yang dikarenakan kurang bersih dan
dirawatnya kandang, masyarakat takut lalat tersebut nantinya membawa
penyakit. Dan satu lagi dari peternakan ayam negeri
masyarakatmengkhawatirkan virus flu burung Avian Infuenza (H5N1)yang
pada saat tahun 2008 lagi sedang gempar-gemparnya.
Tanggapan :
Oleh karena itu, peternak ayam negeri
atau broiler harus memiliki etika bisnis yang baik bukan hanya mencari
keuntungan semata namun juga harusmenciptakan lingkungan yang sehat di
sekitar peternakan. Dengan cara pengelolaan limbah yang baik misalkan
dijadikan pupuk untyuk tanaman atau untuk pakan ikan lele, menjaga
kebersihan lingkungan dengan melakukan penyemprotan kandang disinfetan
secara berkala agar tidak timbul banyak lalat & penyakit.
sumber :
http://cochochipuenak.wordpress.com/2011/09/25/contoh-kasus-etika-bisnis-yang-tidak-e
Monday, May 5, 2014
METODOLOGI PENELITIAN
PENGERTIAN METODOLOGI
PENELITIAN
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan
prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga
merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupak
an suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan,
juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki
masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Hakekat penelitian dapat
dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk
melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di
antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan
tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian
merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui
sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan
kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan
penelitian.
Adapun tujuan
Penelitian adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
1.
Penemuan. Data yang diperoleh dari penelitian
merupakan data-data yang baru yang belum pernah diketahui.
2.
Pembuktian. Data yang diperoleh dari penelitian
digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap informasi atau pengetahuan
tertentu.
3.
Pengembangan. Data yang diperoleh dari penelitian
digunakan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Kegunaan penelitian
dapat dipergunakan untuk memahami masalah, memecahkan masalah, dan
mengantisipasi masalah.
1.
Memahami
masalah. Data yang diperoleh
dari penelitian digunakan untuk memperjelas suatu masalah atau informasi yang
tidak diketahui dan selanjutnya diketahui.
2.
Memecahkan
masalah. Data yang diperoleh
dari penelitian digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah.
3.
Mengantisipasi
masalah. Data yang diperoleh
dari penelitian digunakan untuk mengupayakan agar masalah tersebut tidak
terjadi.
Langkah Dalam Metode Ilmiah
Pelaksanaan penelitian
dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu.
Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli
dalam mereka melaksanakan penelitian.
Schluter (1926)
memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah.
Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan bidang,
topik atau judul penelitian.
2. Mengadakan survei
lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
3. Membangun sebuah
bibliografi.
4. Memformulasikan dan
mendefinisikan masalah.
5. Membeda-bedakan dan
membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
6. Mengklasifikasikan
unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik
langsung ataupun tidak langsung.
7. Menentukan data
atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
8. Menentukan apakah
data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
9. Menguji untuk
diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
10. Mengumpulkan data
dan keterangan yang diperlukan.
11. Mengatur data
secara sistematis untuk dianalisa.
12. Menganalisa data
dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.
13. Mengatur data
untuk persentase dan penampilan.
14. Menggunakan
citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).
15. Menulis laporan
penelitian.
SUMBER
Monday, April 28, 2014
hipotesis
SOFTSKILL: HIPOTESIS
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah; thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Hipotesis dalam Penelitian
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis. Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
1. Untuk menguji teori
2. Mendorong munculnya teori
3. Menerangkan fenomena sosial
4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian
5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan
Kegunaan Hipotesis
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:
1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Karakteristik Hipotesis
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4. Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.
Macam-macam Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto, jenis Hipotesa penelitian pendidikan dapat di golongkan menjadi dua yaitu :
1. Hipotesa Kerja, atau disebut juga dengan Hipotesa alternatif (Ha). Hipotesa kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
2. Hipotesa Nol (Null hypotheses) Ho. Hipotesa nol sering juga disebut Hipotesa statistik,karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Bertolak pada pemikiran diatas dapat penulis kemukakan bahwa dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis kerja dan hipotesis nihil (nol).
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis
http://lenterakecil.com/pengertian-hipotesis-dalam-penelitian/
Hipotesis dalam Penelitian
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis. Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
1. Untuk menguji teori
2. Mendorong munculnya teori
3. Menerangkan fenomena sosial
4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian
5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan
Kegunaan Hipotesis
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:
1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Karakteristik Hipotesis
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4. Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.
Macam-macam Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto, jenis Hipotesa penelitian pendidikan dapat di golongkan menjadi dua yaitu :
1. Hipotesa Kerja, atau disebut juga dengan Hipotesa alternatif (Ha). Hipotesa kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
2. Hipotesa Nol (Null hypotheses) Ho. Hipotesa nol sering juga disebut Hipotesa statistik,karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Bertolak pada pemikiran diatas dapat penulis kemukakan bahwa dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis kerja dan hipotesis nihil (nol).
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis
http://lenterakecil.com/pengertian-hipotesis-dalam-penelitian/
Monday, April 21, 2014
Karya Ilmiah
Pengertian Karya Ilmiah
Karangan ilmiah merupakan suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya
Ciri-ciri Karya Ilmiah
Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
MACAM-MACAM KARYA ILMIAH :
Tesis
Tesis adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Mahasiswa melakukan penelitian mandiri, menguji satu atau lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan baru’.
Tesis atau Master Thesis ditulis bersandar pada metodologi; metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi.
Dalam penulisannya dituntut kemampuan dalam menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi. Artinya, kemampuan mandiri —sekalipun dipandu dosen pembimbing— menjadi hal sangat mendasar. Sekalipun pada dasarnya sama dengan skripsi, tesis lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.
Skripsi
Skripsi adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Bobotnya 6 satuan kredit semster (SKS) dan dalam pengerjakannya dibantu dosen pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi.
Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapanagn atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah sumbangan material berupa penemuan baru.
Makalah
Lazimnya, makalah dibuat melalui kedua cara berpikir tersebut. Tetapi, tidak menjadi soal manakala disajikan berbasis berpikir deduktif (saja) atau induktif (saja). Yang penting, tidak berdasar opini belaka.
Makalah, dalam tradisi akademik, adalah karya ilmuwan atau mahasiswa yang sifatnya paling ‘soft’ dari jenis karya ilmiah lainnya. Sekalipun, bobot akademik atau bahasan keilmuannya, adakalanya lebih tinggi. Misalnya, makalah yang dibuat oleh ilmuwan dibanding skripsi mahasiswa.
Makalah mahasiswa lebih kepada memenuhi tugas-tugas pekuliahan. Karena itu, aturannya tidak seketad makalah para ahli. Bisa jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan tanpa menandemnya dengan kenyataan lapangan. Makalah lazim dibuat berdasrakan kenyatan dan kemudian ditandemkan dengan tarikan teoritis; mengabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya. Makalah adalah karya tulis (ilmiah) paling sederhana.
SIKAP ILMIAH
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An attitude ia an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” .
Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek.
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara ;ain :
Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.
Tesis adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Mahasiswa melakukan penelitian mandiri, menguji satu atau lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan baru’.
Tesis atau Master Thesis ditulis bersandar pada metodologi; metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi.
Dalam penulisannya dituntut kemampuan dalam menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi. Artinya, kemampuan mandiri —sekalipun dipandu dosen pembimbing— menjadi hal sangat mendasar. Sekalipun pada dasarnya sama dengan skripsi, tesis lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.
Skripsi
Skripsi adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Bobotnya 6 satuan kredit semster (SKS) dan dalam pengerjakannya dibantu dosen pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi.
Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapanagn atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah sumbangan material berupa penemuan baru.
Makalah
Lazimnya, makalah dibuat melalui kedua cara berpikir tersebut. Tetapi, tidak menjadi soal manakala disajikan berbasis berpikir deduktif (saja) atau induktif (saja). Yang penting, tidak berdasar opini belaka.
Makalah, dalam tradisi akademik, adalah karya ilmuwan atau mahasiswa yang sifatnya paling ‘soft’ dari jenis karya ilmiah lainnya. Sekalipun, bobot akademik atau bahasan keilmuannya, adakalanya lebih tinggi. Misalnya, makalah yang dibuat oleh ilmuwan dibanding skripsi mahasiswa.
Makalah mahasiswa lebih kepada memenuhi tugas-tugas pekuliahan. Karena itu, aturannya tidak seketad makalah para ahli. Bisa jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan tanpa menandemnya dengan kenyataan lapangan. Makalah lazim dibuat berdasrakan kenyatan dan kemudian ditandemkan dengan tarikan teoritis; mengabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya. Makalah adalah karya tulis (ilmiah) paling sederhana.
SIKAP ILMIAH
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An attitude ia an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” .
Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek.
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara ;ain :
Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.
Daftar Pustaka
Friday, March 28, 2014
INDUKTIF
Belajar Mengenal Paragraf Berpola Induktif (Generalisasi, Analogi dan Kausal)
Untuk melanjutkan Tugas berikutnya yaitu pengertian serta contoh paragraf Generalisasi, Analogi dan Kausal. Berikut pengertian dan contohnya. :)
Paragraf Generalisasi
Generalisasi adalah
penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum
berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang
dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.
Contoh:
Kenaikan BBM baru-naru ini tekah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Para pengguna angkutan umum harus membayar dua kali lipatbesarnya dari sebelum adanya kenaikan BBM. langkanya BBM membuatmasyarakat resah dan panik..Tindak kriminal semakin merajalela dimana-mana. kenaikan BBM yang diharapkan dapat memperbaiki perekonomian, pada saat ini justru membuat rakyat semakin menderita.
Paragraf Analogi
Analogi adalah penalaran
dengan cara membandingkan dua hal yang banyak menandung persamaan.
Dengan kesamaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulannya. Paragraf
analogi ini merupakan bagian paragraf induktif.
Contoh:
Peternakan merupakan aspek perekonomian yang penting dan menjanjikan. Selain dapat menjadi lahan pendapatan, peternakan juga memiliki dampak positif meningkatkan gizi masyarakat. Pengembangan peternakan dapat memenuhi kebutuhan daging warga sehingga negara tidak perlu mengimpor daging dari luar. Pertanian juga merupakan aspek perekonomian yang penting. Pengembangan pertanian dapat memenuhi kebutuhan beras warga sehingga impor dari luar tidak diperlukan..
Paragraf Sebab-Akibat (Kausal)
Hubungan kausal
adalah proses penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling
berhubungan. Hubungan kausal ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
- Sebab – Akibat.Sebab – akibat ini berpola A menyebabkan B.
- Akibat – Sebab. Akibat – sebab ini berpola Akibat dari B
- Akibat – Akibat. Akibat – akibat merupakan penalaran yang menyiratkan penyebabnya, Peristiwa akibat langsung disimpulkan pada akibat yang lain.
Contoh:
Harga beras dan kebutuhan pokok lainnya melonjak tinggi. Kenaikan harga-harga tersebut mencapai dua kali lipatnya dari harga semula. Beberapa warung makan gulung tikar dan sebagian yang lain menaikkan harga dagangannya. Oleh karena itu, biaya hidup anak kost atau para perantau terutama di kota-kota besar bertambah mahal..
Sumber referensi: http://www.pustakasekolah.com/mengenal-teks-berpola-induktif.html
http://jurnalmasbro.wordpress.com/2012/12/12/belajar-mengenal-paragraf-berpola-induktif-generalisasi-analogi-dan-kausal/
Sunday, March 23, 2014
DEDUKTIF
Penalaran Deduktif (Silogisme)
22FEB
Sebelumnya telah dibahas mengenai apa itu penalaran induktif dan juga macam-macam penalaran induktif beserta contohnya. Maka sekarang saya akan mencoba menjelaskan penalaran deduktif.
* Pengertian Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif biasanya diawali dengan adanya suatu pernyataan/premis yang bersifat umum kemudian diikuti dengan pernyataan/premis yang bersifat khusus. kemudian kita dapat menarik kesimpulan dari premis yang ada sebelumnya, dengan cara menggabungkan kesamaan dari premis umum dan khusus tersebut. Biasanya penalaran deduktif disebut juga sebagai silogisme.
* Macam-macam Penalaran Deduktif
1. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses pengambilan keputusan/kesimpulan (konklusi) dari 2 macam premis yang ada sebelumnya. Sehingga kita dapat menarik kesimpulan dari 2 premis yang ada sebelumnya yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.
Contoh :
Semua manusia pasti akan meninggal
Tono adalah manusia
Jadi : Tono pasti akan meninggal
Tono adalah manusia
Jadi : Tono pasti akan meninggal
* Hukum-hukum Silogisme
a. Hukum pertama
Silogisme tidak boleh kurang ataupun lebih dari tiga kondisi (term). Apabila kurang dari tiga term berarti bukan silogisme. Jika terdapat empat term, apakah yang akan menjadi pokok perbandingan? tidak mungkinlah orang membandingkan dua hal denga dua hal pula, dan lenyaplah dasar perbandingan.
b. Hukum kedua
Term antara atau tengah (medium) tidak boleh masuk (terdapat) dalam kesimpulan. Term medium hanya dimaksudkan untuk mengadakan perbandingan dengan term-term. Perbadingan ini terjadi dalam premis-premis. Karena itu term medium hanya berguna dalam premis-premis saja.
c. Hukum ketiga
Wilayah term dalam konklusi tidak boleh lebih luas dari wilayah term itu dalam premis. Hukum ini merupakan peringatan, supaya dalam konklusi orang tidak melebih-lebihkan wilayah yang telah diajukan dalam premis. Sering dalam praktek orang tahu juga, bahwa konklusi tidak benar, oleh karena tidak logis (tidak menurut aturan logika), tetapi tidak selalu mudah menunjuk, apa salahnya itu.
d. Hukum keempat
Term antara (medium) harus sekurang-kurangnya satu kali universal. Jika term antara paticular, baik dalam premis mayor maupun dalam premis minor, mungkin saja term antara itu menunjukkan bagian-bagian yang berlainan dari seluruh luasnya. Kalau demikian term antara, tidak lagi berfungsi sebagai term antara, dan tidak lagi menghubungkan atau memisahkan subyek dengan predikat.
Contoh : Beberapa pengusaha pembohong
Amir adalah pengusaha
Amir adalah pembohong.
Contoh : Beberapa pengusaha pembohong
Amir adalah pengusaha
Amir adalah pembohong.
* Bentuk-bentuk silogisme
a. Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua posisinya merupakan proposisi kategorik , Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal , sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikuler atau sinjuler, tetapi bisa juga proposisi universal tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya . Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya , tapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya dengan demikian satu pangalan umum dan satu pangkalan khusus dapat di hubungkan dengan berbagai cara tetapi hubungan itu harus di perhatikan kwalitas dan kantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi atau natijah yang valid.
b. Silogisme Hipotesis adalah argument yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidk memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung terem predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi.
- Macam tipe silogisme hipotetik
a) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan , saya naik becak
Sekarang Hujan .
Jadi saya naik becak.
b) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekwensinya , seperti :
Bila hujan , bumi akan basah
Sekarang bumi telah basah .
Jadi hujan telah turun
c) Silogisme hipotetik yang premis Minornya mengingkari antecendent , seperti :
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa , maka kegelisahan akan timbul .
Politik pemerintah tidak dilaksanakan dengan paksa ,
Jadi kegelisahan tidak akan timbul
d) Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekwensinya , seperti:
Bila mahasiswa turun kejalanan , pihak penguasa akan gelisah
Pihak penguasa tidak gelisah
Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan
2.Entimem
Entimem merupana suatu bentuk silogisme juga. Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sa ma-sama diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua:
a. menipu adalah dosa
b. karena (menipu) merugikan orang lain.
Kalimat a merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor(karena bersifat khusus). Maka silogisme dapat disusun:
Mn : menipu merugikan orang lain
K :menipu adalah dosa.
Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kitaharus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknva³menipu´. Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya: Perbuatan yangmerugikan orang lain adalah dosa. Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kitacari dulu ke- simpulannya.
http://girlycious09.wordpress.com/2011/02/22/penalaran-deduktif-silogisme/
Monday, March 17, 2014
Penalaran
PENALARAN
Penalaran adalah
suatu proses berfikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang
ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang logis berdasarkan atas evidensi
yang relevan. Dengan demikian, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai
dasar untuk menarik kesimpulan. Data atau fakta yang dinalarkan itu boleh benar
dan boleh tidak. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai
satu kesimpulan harus dalam bentuk kalimat
pernyataan.
1.
Proposisi dan Term
Proposisi adalah
kalimat yang berisi pernyataan tentanghubungan antara fakta –fakta (subjek dan
predikat). Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau
predikat dalam sebuah kalimat proposisi. Namun proposisi juga dapat diartikan
sebagai kalimat pernyataan tentang hubungan antara fakta-fakta yang dapat
dinilai benar atau salah. Suatu proposisi mempunyai subjek dan predikat yang
berbentuk kalimat, tetapi tidak semua kalimat digolongkan dalam proposisi.
Hanya kalimat berita netral yang dapat disebut proposisi.
Seorang ahli
logika bangsa Swiss bernama Euler pada abad XVII menemukakan konsepnya, empat
jenis proposisi dengan lima
macam posisi lingkaran (lingkaran Euler). Keempat jenis proposisi itu yaitu:
a. Suatu pangkat yang tercakup dalam
subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat.
Contoh: Semua
sehat adalah semua tidak sakit.
b. Suatu perangkat yang tercakup dalam
subjek menjadi bagian dari perngkat predikat.
Contoh: Semua
sepeda beroda.
c. Suatu perangkat yang tercakup
dalam subjek berada diluar perangkat predikat.
Contoh: Tidak
seorang pun manusia adalah binatang.
d. Sebagian perangkat yang tercakup dalam
subjek berada di luar perangkat predikat.
Contoh: Sebagian
kaca tidaklah bening.
2. Jenis-jenis
Proposisi
Berdasarkan
bentuknya, preposisi dibagi atas 2, yaitu:
a.
Proposisi Tunggal
Proposisi
tunggal hanya mengandung satu pertanyaan.
Contoh: Semua
mahasiswa adalah agen perubahan
b.
Proposisi Majemuk
Proposisi
majemuk mengandung lebih dari satu pernyataan,
Contoh: Semua
mahasiswa adalah agen perubahan dan calon pemimpin .
Berdasarkan
sifatnya,proposisi dibagi 2, yaitu:
a.
Proposisi Kategorial
Proposisi
Kategorial adalah hubungan subjek dan predikat terjadi tanpa
syarat.
Contoh: Sebagian binatang berkaki empat.
b.
Proposisi Kondisional
Proposisi Kondisional adalah hubungan antara subjek dan
predikat terjadi dengan suatu syarat yang dapat diingat sebelum peristiwa
berlangsung.
Proposisi Kondisional dibagi 2, yaitu:
1)
Proposisi Kondisional Hipotesis,yang terdiri anteseden (syarat) dan konsekuen
(akibat).
Contoh: Kalau
metodenya diubah (anteseden), maka hasilnya akan berbeda (konsekuen).
2)
Preposisi kondisional Disjungtif, yaitu suatu alternate atau pilihan.
Contoh: Kita
akan melanjutkan diskusi ini, atau bubar saja.
Berdasarkan
kualitasnya, preposisi dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Preposisi Positif (afirmatif)
Preposisi
positif (afirmatif) adalah preposisi yang membenarkan adanyapersesuaian
hubungan antara subjek dan predikat.
Contoh: Sebagian
mahasiswa tidak melekukan KKN.
b.
Preposisi Negatif
Preposisi
negatif adalah preposisi yang menyatakan tidak ada hubungan antara subjek dan
predikat.
Contoh: Sebagian
orang jompo tidaklah pelupa.
Berdasarkan
kuantitasnya, proposisi dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Proposisi Universal
Proposisi
universal adalah predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh objek.
Contoh: Semua
dokter adalah orang pintar
Tidak
seorang dokter pun adalah orang yang tak pintar.
b.
Proposisi Khusus
Proposisi khusus
adalah predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian
subjek.
Contoh: Sebagian
mahasiswa gemar olahraga.
3. Bentuk-bentuk Preposisi
Berdasarkan dua
jenis preposisi yaitu preposisi kuantitas (umum dan khusus) dan proposisi kualitas
(positif dan negatif) didapatkan empat macam proposisi, antara lain:
a.
Proposisi Umum positif
Proposisi umum
positif adalah proposisi yang predikatnya membenarkan keseluruhan asubjek yang
disebut proposisi A.
b.
Proposisi Umum Negatif
Proposisi umum negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari
keseluruhan subjek yang disebut proposisi E.
c.
Proposisi Khusus Positif
Proposisi khusus positif adalah proposisi yang predikatnya membenarkan sebagian
subjek yang disebut proposisi I.
d.
Proposisi Khusus Negatif
Proposisi khusus negatif adalah proposisi yang predikatnya mengingkari
sebagian subjek yang disebut proposisi O.
Evidensi merupakan
semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas yang
dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai
evidensi tidak boleh digabung dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan atau
penegasan. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau
informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan
yang diperoleh dari suatu sumber tertentu.
Inferensi
merupakan suatu proses untuk menghasilkan informasi dari
fakta yang diketahui. Inferensi adalah
konklusi logis atau implikasi berdasarkan informasi yang
tersedia. Dalam sistem pakar, proses inferensi dialakukan dalam suatu
modul yang disebut inference engine. Ketika representasi pengetahaun pada
bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada
level yang cukup akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah
siap digunakan.
http://irnawatiindah.blogspot.com/2013/03/penalaran-evidensi-inferensi.html
Subscribe to:
Posts (Atom)