OCKTAVIAN WHASTA WIRAWAN / 15211422 / 4EA03
Pentingnya membina etika bisnis untuk menghasilkan bisnis yang bagus
Etika bisnis merupakan suatu studi mengenai prinsip-prinsip atau
standar-standar moral dan bagaimana standar-standar ini berlaku bagi
sistem dan organisasi yang digunakan oleh masyarakat untuk menghasilkan
dan mendistribusikan barang dan jasa, dan bagi orang-orang yang bekerja
di dalam organisasi tersebut.
Dua hal yang perlu dicatat dari pengertian di atas.
Pertama, etika bisnis bukanlah suatu jenis lain etika; ia adalah etika
dalam konteks bisnis; memfokuskan pada apa yang merupakan perilaku yang
benar atau salah di ranah bisnis dan bagaimana prinsip-prinsip moral
diterapkan oleh para pelaku bisnis pada situasi-situasi yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari mereka di lingkungan pekerjaan.
Kedua, para pelaku bisnis tidak perlu mengadopsi seperangkat prinsip
etika untuk memandu mereka dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis
dan seperangkat prinsip lain untuk memandu kehidupan pribadi mereka.
Dimensi Moral dalam Pengambilan Keputusan Bisnis
Terlepas dari rumitnya hubungan etika bisnis dengan ekonomi dan hukum,
bisnis adalah organisasi ekonomi yang tidak hanya menjalankan
kegiatannya berdasarkan aturan-aturan hukum yang berlaku, tetapi juga
norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.
Bahkan dapat dikatakan, bahwa seiring dengan meningkatnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab sosial, etika
merupakan dimensi sangat penting yang harus selalu dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan bisnis.
Cakupan Etika Bisnis
Isu-isu yang dicakup oleh etika bisnis meliputi topik-topik yang luas.
Isu-isu ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 dimensi atau jenjang, yaitu:
(1) sistemik, (2) organisasi, dan (3) individu.
Isu-isu sistemik dalam etika bisnis berkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul mengenai lingkungan dan sistem
yang menjadi tempat beroperasinya suatu bisnis atau perusahaan: ekonomi,
politik, hukum, dan sistem-sistem sosial lainnya.
Isu-isu organisasi dalam etika bisnis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan etika tentang perusahaan tertentu.
Sementara itu, isu-isu individu dalam etika bisnis menyangkut
pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul dalam kaitannya dengan individu
tertentu di dalam suatu perusahaan.
Manajemen beretika, yakni bertindak secara etis sebagai seorang manajer
dengan melakukan tindakan yang benar (doing right thing). Manajemen
etika adalah bertindak secara efektif dalam situasi yang memiliki
aspek-aspek etis. Situasi seperti ini terjadi di dalam dan di luar
organisasi bisnis. Agar dapat menjalankan baik manajemen beretika maupun
manajemen etika, para manajer perlu memiliki beberapa pengetahuan
khusus.
Banyak eksekutif bisnis menganggap kultur korporat yang mereka pimpin,
adalah sesuatu yang mereka inginkan. Mereka membuat lokakarya untuk
mendefinisikan nilai-nilai dan proses-proses, menuliskan misi dan tujuan
perusahaan pada poster, menyediakan sesi-sesi orientasi untuk pegawai
baru, guna menjelaskan tujuan perusahaan dan lain-lain. Bahkan, ada yang
mencetak statement nilai-nilai perusahaan di balik kartu identitas
sebagai pengingat bagi para pegawai.
Semua itu memang penting dilakukan. Namun, ada hal yang lebih penting
yang kerap dilupakan pemimpin bisnis. Kultur perusahaan sebenarnya
didefinisikan oleh perilaku para eksekutif. Pegawai meniru perilaku bos
karena boslah yang menilai, menggaji, dan mempromosikan mereka. Maka,
para pemimpin tertinggi pada akhirnya bertanggung jawab atas kultur
organisasinya, termasuk kultur etikanya.
Memang benar, pegawai secara individual bertanggung jawab atas
perbuatannya. Mereka digerakkan seperangkat nilai-nilai atau
prinsip-prinsip internal sendiri. Namun, ketika urusan perut, kedudukan,
dan kekuasaan yang menjadi taruhan, orang akan melakukan apa saja agar
berhasil. Terlalu sedikit orang yang punya nyali mengambil risiko bagi
diri dan keluarga demi prinsip, terutama jika konsekuensinya tampak
kecil, samar, dan tak terdeteksi.
Di sinilah strategisnya peran pemimpin. Agar pegawai bertindak sesuai
prinsip, suatu organisasi bisnis harus dipimpin eksekutif yang
bersungguh-sungguh membuat keputusan, tidak hanya menurut
batasan-batasan bisnis dan legal, tetapi juga batasan-batasan etis.
Secara sepintas, untuk menegakkan etika yang bagus sepertinya
menghabiskan uang. Padahal, kepemimpinan yang etis justru bisa menghemat
uang. Cobalah renungkan peran kualitas dalam bisnis. Sebagian besar
industri Amerika sebelum 1970-an, menganggap produk dan jasa yang
berkualitas terlalu mahal untuk diproduksi. Lalu, ada satu pelajaran
besar yang diajarkan kepada industri Amerika oleh industri Jepang.
Ironisnya, industri Jepang belajar dari ahli statistik Amerika, William
Edwards Deming.
Pada 1947, Deming dikirim ke Tokyo untuk menjadi penasihat Markas
Pasukan Sekutu, mengenai penerapan teknik sampling yang dikembangkannya.
Di sana, dia berkesempatan bertemu dengan manajer Jepang, yang punya
hubungan baik dengan Keindanren, serikat buruh besar di negara itu. Para
manajer terpikat pada teori-teori manajemen Deming, yang mereka dengar
sebelum perang. Mereka pun mengundangnya untuk memberi kuliah dan
berbicara dalam seminar-seminar. Singkat cerita, industri Jepang
mengadopsi teori-teori manajemen Deming dan sepuluh tahun kemudian,
produk-produk Jepang mulai mengalir ke AS.
Konsumen AS tak salah, sebab barang-barang Jepang memang lebih bagus dan
lebih murah. Itulah titik balik sejarah dunia. Kini, perusahaan
otomotif, elektronik, dan semikonduktor Jepang, benar-benar menikmati
hasil pelajaran itu. Industri Jepang bisa mendominasi pasar dunia dalam
hal kepuasan pelanggan, dengan biaya manufaktur yang paling rendah.
Pelajaran besar yang diajarkan industri Jepang adalah tentang imbalan
dari biaya (baca, komitmen) kepada kualitas dan pelayanan kepada
konsumen.
Paradigma peran kualitas itu juga berlaku pada etika. Pelaksanaan etika
yang buruk, bisa mengarah kepada kerugian finansial. Ilustrasinya,
ketika suatu perusahaan mematok keuntungan terlalu tinggi dan
mengeksploitasi konsumen, maka prinsip pertama makro ekonomi akan
berlaku. Ketika rate of return berlebihan, maka kompetitor masuk untuk
mengoreksinya. Kompetitor menekan harga turun, menghasilkan profit
subnormal, bahkan kerugian dan pada akhirnya perusahaan yang paling
tidak efisien akan tersingkir dari pasar.
Bukan suatu kebetulan bila secara empiris, etika berkorelasi dengan rate
of return. Perhatikanlah, nilai investasi di perusahaan-perusahaan AS
yang menjunjung tinggi komitmen tanggung jawab sosial, naik secara tajam
pada tahun 1995-1997. Aset-aset di perusahaan seperti itu –tidak
termasuk perusahaan tembakau, senjata, atau perusahaan yang dikritik
karena praktik perburuhan mereka— naik 227 persen dalam dua tahun (dari
162 miliar dolar AS menjadi 529 miliar dolar AS). Ini sangat
mengesankan, mengingat pada periode yang sama, pasar secara keseluruhan
tumbuh hanya 84 persen dan S&P hanya 60 persen.
Tidak berlebihan bila dikatakan, kelangsungan suatu organisasi bisnis
akan ditentukan seberapa kuat penegakan etika di dalamnya. Kultur etika
organisasi bergantung kepada pemimpinnya.
Selama ini, banyak orang salah memahami arti kepemimpinan. Umumnya,
orang melihat pemimpin adalah kedudukan atau posisi semata, sehingga
banyak orang mengejarnya dengan menghalalkan segala cara. Ada yang
membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing atau
teman, dan sebagainya. Pemimpin hasil dari cara seperti itu, akan selalu
menggunakan kekuasaannya dalam mengarahkan, memperalat, bahkan
menguasai orang lain, agar orang lain mengikutinya. Pemimpin jenis ini,
umumnya suka menekan, dan sebagai akibatnya, dia bukan pemimpin yang
dicintai. Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi
Anda tidak bisa memimpin orang lain dengan efektif tanpa mencintai
mereka.
Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini?
Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya
saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai
(value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik,
sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang
andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan
konsekwen.
http://roboluticx.blogspot.com/p/pentingnya-membina-etika-bisnis-untuk.html