Contoh Kasus 1 :
Bubur ayam merupakan salah satu menu
favorit kita untuk sarapan setiap harinya. Makanan ini digemari oleh
hampir semua kalangan dan semua usia, mulai dari anak-anak hingga
dewasa. Namun tanpa kita sadari, ternyata ada suatu ancaman mengintai
kesehatan tubuh kita, yaitu BORAKS! Ya, boraks yang diindikasikan bisa
mengawetkan bubur tersebut ternyata ikut dimasukkan ke dalam adonan
pembuatan bubur ayam oleh pedagang bubur ayam yang berniat curang guna
memperoleh keuntungan dengan cara mengawetkan buburnya agar bisa tetap
dipergunakan esok harinya.
Melihat fenomena dan fakta tersebut,
hendaknya kita bisa membedakan bubur ayam yang mengandung boraks dan
yang tidak menggunakan boraks. Memang tidak mudah untuk membedakannya,
karena tampilan keduanya sama-sama encer dan putih.
Cara membedakannya :
- Bubur ayam yang dicampuri boraks, biasanya tekstur buburnya tidak akan berubah dalam jangka waktu tertentu, masih tetap encer, namun apabila kita memegang tekstur buburnya, maka akan terasa lengket di tangan seperti lem.
- Bubur ayam yang tidak mengandung boraks, tekstur buburnya akan mengental dan mengeras dalam jangka waktu tertentu, karena air yang terkandung di dalam bubur tersebut akan menyatu dengan buburnya. Bila kita pegang pun tidak akan terasa lengket.
Komentar Penulis :
Pendapat saya contoh kasus di atas sangatlah membahayakan untuk pihak yang mengkonsumsi bubur ayam karena jika dikonsumsi akan memicu terjadinya penyakit seperti gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Hal ini harusnya tidak terjadi lagi untuk para pebisnis yang melakukan usaha bubur ayam. Pebisnis harus jujur dan memiliki etika yang baik untuk konsumen supaya konsumen tidak menjadi korban dari pebisnis yang nakal dan kurang beretika.
Pendapat saya contoh kasus di atas sangatlah membahayakan untuk pihak yang mengkonsumsi bubur ayam karena jika dikonsumsi akan memicu terjadinya penyakit seperti gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Hal ini harusnya tidak terjadi lagi untuk para pebisnis yang melakukan usaha bubur ayam. Pebisnis harus jujur dan memiliki etika yang baik untuk konsumen supaya konsumen tidak menjadi korban dari pebisnis yang nakal dan kurang beretika.
Contoh kasus 2 :
Usaha peternakan ayam negeri atau broiler
mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena tingginya
permintaan masyarakat akan daging. Usaha peternakan ayam ini juga
memberikan keuntungan yang tinggi dan bisa menjadi sumber pendapatan
bagi peternak ayam broiler tersebut. Akan tetapi, peternak dalam
menjalankan usahanya masih mengabaikan prinsip-prinsip etika bisnis.
Akhir-akhir ini usaha peternakan ayam
dituding sebagai usaha yang ikut mencemari lingkungan. banyaknya
peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat dirasakan mulai
mengganggu oleh warga terutama peternakan ayam yang lokasinya dekat
dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk
dari kegiatan usaha peternakan ayam karena masih banyak peternak yang
mengabaikan penanganan limbah dari usahanya. Limbah peternakan yang
berupa feses (kotoran ayam), dan sisa pakan serta air dari pembersihan
ternak dan kandang menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat di
sekitar lokasi peternakan tersebut. Tidak jauh dari rumah saya banyak
berdiri peternakan ayam di tengah-tengah penduduk yang tidak jarang
terjadi perselisihan antara masyarakat yang berada di sekitar peternakan
tersebut dengan pemilik ternak tersebut. Masyarakat mengeluhkan polusi
udara atau bau yang tidak sedap dari limbah peternakan ayam tersebut,
yang dikarenakan kurangnya manajemen dalam pengelolaan limbah ternak.
Selain itu timbulnya banyak lalat yang dikarenakan kurang bersih dan
dirawatnya kandang, masyarakat takut lalat tersebut nantinya membawa
penyakit. Dan satu lagi dari peternakan ayam negeri
masyarakatmengkhawatirkan virus flu burung Avian Infuenza (H5N1)yang
pada saat tahun 2008 lagi sedang gempar-gemparnya.
Tanggapan :
Oleh karena itu, peternak ayam negeri
atau broiler harus memiliki etika bisnis yang baik bukan hanya mencari
keuntungan semata namun juga harusmenciptakan lingkungan yang sehat di
sekitar peternakan. Dengan cara pengelolaan limbah yang baik misalkan
dijadikan pupuk untyuk tanaman atau untuk pakan ikan lele, menjaga
kebersihan lingkungan dengan melakukan penyemprotan kandang disinfetan
secara berkala agar tidak timbul banyak lalat & penyakit.
sumber :
http://cochochipuenak.wordpress.com/2011/09/25/contoh-kasus-etika-bisnis-yang-tidak-e
No comments:
Post a Comment